Cerita Sebelumnya:
- Bintang di Langit Jogja (1)
- Bintang di Langit Jogja (2)
- Bintang di Langit Jogja (3)
- Bintang di Langit Jogja (4)
- Bintang di Langit Jogja (5)
BINTANG DI LANGIT JOGJA (Bagian 6)
Jogja, 2 Juli 2007
Azka ke rumah lagi dy. Aku terpaksa bohong lagi! Aku cerita kalo aku belakangan lg sibuk ma travellingku. Tapi aku emang bener2 sibuk persiapan perjalanan panjangku dy, menjemput maut. Kutahu dia semakin mendekat, tapi yang bisa kurasa adalah jiwaku yang menghangat oleh kedamaian yang tak kumengerti. Aku sekarang kemo tiap tiga hari dy! Rambutku rontok, makanya sekarang aku pelontos! Tapi tetep cantik...lihat deh fotoku..masih cakep kan???
Jogja, 17 Juli 2007
Semakin dekat dy, dia semakin dekat, mengaburkan bayang2 Azka, menjauhkanku dari Azka. Aku tak bisa dy, menghilangkannya dari pikiranku. Tapi aku menikmati proses ini. Aku menyukai ketika bayang2 kematian itu menghampiri. Dia tidak menyeramkan dy. Dia terasa hangat...Dia menjelma Rinjani. Aku ingin pergi ke Rinjani... Aku ingin merasakan indahnya Rinjani. Tapi itu tak mungkin lagi. Satu bulan lagi mereka berangkat, tanpa aku dy!Apa aku masih bisa mendengar cerita tentang Rinjani???
Jogja, 5 Agustus 2007
Azka datang melamarku. Tak mungkin aku menjawab”ya”. Karena waktu!! meskipun aku ingin..Dia terlihat kecewa dy, tapi aku juga lebih kecewa..
Jogja, 15 Agustus 2007
Aku berangkat ke RS sendiri. Aku benar-benar ingin sendiri. Omi tau alasanku, aku tak ingin Azka tahu..
Jogja, 29 Agustus 2007
Buat, Azka...
Maafkan aku Az, aku sudah menyakitimu. Itu karena aku tak ingin kamu terluka lebih...Saat kamu membaca ini mungkin aku udah pergi. Maafkan aku Az, bukan aku bermaksud gak jujur, bukan aku menutup-nutupi, aku hanya ingin menikmati masa-masa terakhirku...sendiri az. Aku mencintai kesendirian ini...Aku hanya ingin kamu tahu Az, aku merasakan juga apa yang kamu rasakan. Tapi sekali lagi aku tahu malaikat maut sudah di depan pintu. Kapan pun ia bisa membawaku. Entah kemana...Makanya, hari ini aku menuliskan ini untukmu Az! Karena besok aku tak tahu...
Liontin ini adalah sebuah tanda jika aku pernah ada Az. Seperti tulisanmu ketika memberikannya sebagai kado ulang tahunku.”Meski bintang tak terlihat, tapi dia selalu ada.” Aku ingin seperti bintang itu, tetap ada di hatimu sebagai sebuah kenangan masa lalu...
Lala
Tahlil telah selesai sejak dua jam lalu. 3 September 2007. Kau hembuskan nafas terakhirmu. Dan aku disini, di teras kamarmu, menikmati malam bersama catatanmu, La. Kamu masih tetap manis seperti biasanya La, meski tanpa rambut. Akhirnya menetes juga apa yang kutahan sejak dari tadi pagi. Maafkan aku La, yang tidak pernah mengerti dan memahamimu. Maafkan aku. Hanya ribuan doa yang mengiringi langkahmu. Semoga kau temukan damai itu. Aku akan tetap menjagamu La, seperti bintang yang menjaga malam dari kelam. Seperti arti namamu, di sini pancaran malam itu bersinar, di langit Jogja.
By: Rizki Nurrohmi
Label: Bintang di Langit Jogja, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
- Bintang di Langit Jogja (1)
- Bintang di Langit Jogja (2)
- Bintang di Langit Jogja (3)
- Bintang di Langit Jogja (4)
BINTANG DI LANGIT JOGJA (Bagian 5)
Jogja, 13 September 2006
Dy, hari ini rumah sebelah ada yang nempati. Aku gak suka ma orangnya. Nyebelin banget, SKSD gitu deh....Omi seneng banget tuh, masa dari tadi yang diomongin itu, siapa ya, aku lupa namanya, Saka, taka, pokoknya ada ka ka nya!
Jogja, 20 September 2006
Dy, kayaknya malapetaka dtg, si Azka tiap hari maen ke rmh. Numpang makan!Gak sopan bgt gt!Omi malah kesenengen tuh!mentang-mentang baru dapat anak. Kenapa sih, mas Fajar gak pulang-pulang??rumah dah jadi neraka..
Jogja, 3 November 2006
Dy, mas Fajar pulang. Seneng bgt!Tapi si Azka tu nyebelin poll!!Mas fajar lagsung akrab gt deh!Mungkin semua orang kena pelet ma dia. Azka juga udah berani tlp2 mbak Laras. Si Azka jelekk..nyebelin...!!Dasar anak mami!!
Malang, 15 Desember 2006
Dy, Arjuna dingin banget!!Gila, aku pe’ beku!tapi seneng, gak ketemu Azka! terasa di surga!hehe...dah dulu, aku mo gabung ma temen2!! Api unggun ky’x bikin anget deh!!hmm...
Jogja, 18 Desember 2006
Cape’ banget dy, pe muntah darah. Kecapean kalee...!!Si anak mami muncul lagi!!cuekin aja!!lebih asyik maen game, baca buku, atau bersihin alat camping!!persiapan ke Rinjani!!Yess!!rencana Agustus!masih 6 bulan lagi.
Jogja, 24 Januari 2007
Congratulation!!Happy birthday to me!! Seharian nyepi di Kaliurang. Menghindar dari kejaran perploncoan. Tapi tetep aja kena!Pulang belepotan!Surprise, dapet peralatan camping baru dari Omi, mas Fajar, dan mbak Laras. Thanks poll!Seneng, Si anak mami tak menampakkan diri.
Jogja, 25 Januari 2007 00.00 wib
Ancritt!!!Si anak mami cari masalah lagi. Malem-malem bangunin orang!!GAK SOPAN!!aku dikasih liontin berbandul bintang, lumayan! Lanjutin tidur lagi...
Jogja, 26 Januari 2007
Terpaksa banget tadi nganter kue ke rumah si anak mami. Lumayan rapi sih rumahnya. Tau gak sih..ternyata dia MANTAN anak PALA juga! Gak nyangka banget deh...!Fotonya di puncak Jaya OKs banget! Aku juga lihat foto-fotonya yang laen juga! Kenapa tiba2 aja dia nyambung diajak bicara ya?? Asyik juga anaknya!! Terlihat smart! Baru hari ini juga aku sadar, dia tu sebenernya cakep lo! dapet 9!eh, ketinggian!8 aja!!Kok aku jadi ngomongin dia????
Jogja, 15 Februari 2007
Dy, hari ini aku ngajak dia ke base camp!! Temen2 cepet akrab ma dia!!lumayan tuh anak mami!!gak malu-maluin. Habis dari base camp, aku ngajak dia jalan2 ke Borobudur, ngabisin waktu pe’ sore!
Jogja, 3 Maret 2007
Lama banget gak naek dy, badan jadi pegel2, akhirnya ngajak jalan Si Azka ke Kaliurang. Kapokk tuh orang tak ajak jalan pek kakinya keriting. Tapi dia gak ngeluh, malah keliatan seneng! Aku juga ngerasa seneng dy bisa jalan ma dia. Dia cowok yang tau gimana memperlakukan cewek!!Dia juga orang yang care dan menyenangkan!
Jogja, 1 April 2007
Hari ini jalan lagi ma Azka, tanpa Omi, tanpa temen2, ke kali codek lagi, ngopi!! Ini ketiga kalinya aku ke kali codek ma dia!berdua!!kenapa aku ngerasa gak nyaman ya dy?? Kepalaku sakit lagi!!sakit banget dy. Mungkin kebanyakan maen. Aku mo ujian skripsi dy. Persiapan neh...
Jogja, 18 April 2007
Ujian skripsi yang menegangkan dy, aku dihabisi ma dosen penguji. Tapi aku bisa membuktikan semua dy. Pulang pingsan!masuk rumah sakit!mungkin kecapean...
Jangan sampai Omi tau...!Azka udah aku suruh tutup mulut!awas kalo bocor!!!
Jogja, 25 April 2007
Azka sibuk terus dy! Jarang pulang! Aku jadi kangen banget ma dia! Aku gak tau apa yang aku rasain dy. Dia sudah mengisi hari2ku penuh warna. Dia orang yang penuh kejutan dy! Aku udah kebiasaan tiap hari ketemu. Tapi aku dah gak ketemu dia 1minggu!!lama bgt rasanya!!Aku sakit kepala lagi.
Jogja, 3 Mei 2007
Dy, hr ni aq dpt panggilan ke RS.Kata dokter Han, teman sekolah Omi dulu, aku mengidap kanker otak dy, stadium 4, kecil kemungkinan untuk sembuh. Waktuku maksimal 1thn. Tapi aku gak nangis dy, aku gak takut. Semua orang pasti mati kan dy??Aku lebih takut Omi tahu dy, mas Fajar, mbak Laras, dan...Azka!! Aku bersyukur Azka sibuk dengan kerjanya. Itu memberiku kesempatan untuk membunuh rasa ini sebelum aku benar-benar terbunuh oleh penyakitku.tapi aku gak nyerah. Aku langsung mulai kemo dy!
Jogja, 15 Mei 2007
Akhirnya Omi tau dy. Omi nangis terus! Untung Azka gak ada!!
Label: Bintang di Langit Jogja, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
BINTANG DI LANGIT JOGJA (Bagian 4)
Kini semua aku mulai lagi dari awal. Tiga minggu sudah aku di Bandung. Melalui detik-detik dengan cepat, disibukkan dengan segudang kerjaan kantor yang menumpuk, dan puluhan meter janji meeting dengan klien. Saat ini pun aku sedang pusing oleh rancang bangun yang sedang aku persiapkan menghadapi peperangan tender untuk besok.
And i will take u in my arm and hold u right where u belong
every word i say is true this i promise u..this i promise u..
Dering Hpku berbunyi sejak tadi, paling dari Bunda yang akan memarahiku lagi. Jadi aku mengabaikannya. Tapi Hpku tak mau berhenti, akhirnya aku beranjak dari dudukku mengambil Hp yang ku geletakkan di meja. Nomor rumah Lala. Ada tanya dalam hatiku. Dadaku bergetar hebat. Ku angkat Hpku.” Assalamualaikum” sapa seorang lelaki di ujung sana yang ku tebak pastilah mas Fajar. Karena aku sangat kenal suaranya yang bariton. Ada kelegaan yang kurasa karena bukan Lala.
“Waalaikumsalam, mas Fajar. Lho kok di Jogja? kapan nyampe? Kok nggak kasih kabar?” tanyaku.
“Aku udah satu minggu di Jogja,” suaranya bergetar aneh.
“Gimana kabar semua?” kucoba menetralisir sesuatu aneh yang aku rasa.
“Semua sehat. Kecuali Lala, Az,”jawabnya lemah.
Degup jantungku berdetak lebih cepat. Ada keresahan yang sulit kucerna maknanya. Aku menahan nafasku. Berbarengan dengan itu mas Fajar bilang,
“Lala udah pergi Az, pergi untuk selamanya. Dia meninggal satu jam yang lalu.”
Seperti petir di pagi buta.Aku merasa tersengat listrik ribuan watt mendengarnya, beberapa waktu aku sempat kehilangan keseimbangan hingga harus bertumpu pada kursi. Badanku lemas seketika. Tapi aku masih bisa menguasai kesadaranku.
“Aku ke sana mas,” ucapku yang mungkin lebih tertuju pada diriku.
Aku menutup telepon. Aku menghubungi mas Ari menceritakan semuanya. Ku suruh Vanty memesan tiket pesawat ke Jogja untuk penerbangan siang ini. Dia mendapatkannya. Aku segera pulang dan mengemasi barang-barang secukupnya untuk menginap dua atau tiga hari. Begitu selesai kudengar klakson mobil dibunyikan, mas Ari sudah berteriak dari luar. Buru-buru aku mengunci pintu dan masuk mobilnya. Selama perjalanan Bandung-Jakarta kami membisu. Pikiranku berlarian kian kemari. Mungkin mas Ari juga. Sesampainya di bandara aku segera mengambil langkah seribu. Pesawat take-off lima belas menit lagi.
Setengah tergesa aku mengambil tiketku dan berlari menuju pesawat. Aku duduk tanpa ketenangan sedikit pun. Sampai di Jogja pukul empat sore. Aku langsung menuju pemakaman. Ada perasaan aneh yang menjalar. Ada duka yang menggenggam erat jiwa. Ada airmata yang menetes di hati menyesakkan nafas dan membuatku tak percaya. Aku hanya mampu diam, diam, dan diam.
Aku sampai di pemakaman ketika jasadnya yang terbungkus kafan putih dimasukkan ke liang lahat. Kurasakan keheningan yang pekat. Perlahan aku mendekat, memeluk Omi yang mencoba untuk tabah. Meski airmatanya mengalir, Omi tetap tenang, malahan mbak Laras yang menangis terisak-isak dipelukan suaminya. Setelah semua prosesi pemakaman selesai, satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman. Sekarang tinggal Omi dan aku yang terpekur di tepi gundukan tanah merah. Dan akhirnya, Omi pun meninggalkan aku sendiri.
Aku memandangi tanah merah itu. Yang menenggelamkan jasadmu dalam kesendirian panjang. Ya Allah...inikah jawaban dari sujud-sujud panjangku?? Engkau lebih menginginkannya dari aku?? Ku sentuh nisan putih itu. Dimana terukir namamu La. Ada kemarahan padamu, ada seribu tanya yang belum kau jawab. Mengapa kau pergi begitu saja tanpa memberikan satu pun alasan! Ataukah ini alasanmu La?? Ku tarik nafas panjang. Kemarahanku padamu luruh sudah La. Tapi mengapa?? Mengapa La?? Mengapa kamu tak pernah jujur padaku?? Apakah mungkin karena aku terlalu merasa mengenalmu?? Aku tetap tak bisa tenang La. Tahukah kau seberapa besar luka itu?? Aku disini, bukan untuk menggugat apa yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu jawabanmu. Tapi tak mungkin kau mau menjawabnya. Kau hanya bisa diam La. Diam untuk selamanya. Seseorang menyentuh pundakku, Omi.
“Nak Azka, ini buku harian dan liontin yang dititipkan Lala ke Omi sebelum dia koma dan akhirnya pergi untuk selamanya. Omi diminta untuk memberikannya ke nak Azka.” Kata Omi sambil menyerahkan sebuah diary berwarna merah dan liontin berbandul bintang yang dulu aku berikan kepada Lala. Aku bangkit dan menerimanya dengan tangan gemetar. Lalu aku mengiringi Omi berjalan meninggalkan pelataran pemakaman.
Label: Bintang di Langit Jogja, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
BINTANG DI LANGIT JOGJA (Bagian 3)
Pertengahan April dia wisuda dengan predikat cumlaude. Ya, dia memang gadis yang cerdas. Aku sempat khawatir bukan main ketika tiba-tiba dia pingsan saat akan pulang. Kami membawanya ke RS terdekat. Aku meminta dokter untuk melakukan check up secara menyeluruh. Tapi kata dokter mungkin hanya kecapean dan hasil pemeriksaan laboratorium baru keluar sepuluh hari lagi. Aku lega. Dia pulang dengan wajah gembira. Menceritakan rencananya untuk mendaki Rinjani dengan kawan-kawannya. Kulihat dia baik-baik saja, hanya terlihat lelah.
Setelah kejadian wisuda itu, aku sibuk sekali mengatur jadwal. Hanya sesekali saja aku berkunjung. Karena aku lebih sering di lokasi dari pada di rumah. Ketika aku kembali, tiba-tiba kulihat semua sudah berubah. Lala sering terlihat murung, meskipun tidak mengurangi bicara dan tawanya, terutama jika ada di dekatku. Dia semakin sering berlibur, tapi tak pernah mau mengatakan tujuannya. Dia terlihat pucat dan kurus, mungkin karena terlalu sering mengadakan perjalanan jauh. Pertengahan Juli aku mendapat panggilan dari kantor pusat untuk kembali ke Bandung karena ada keadaan sedikit gawat. Aku semakin sibuk dengan pekerjaan yang semakin menumpuk.
Awal Agustus aku menyatakan perasaanku padanya, sekaligus mengatakan aku akan ditarik ke kantor pusat lagi. Dengan semua kebersamaan yang telah aku lalui bersamanya, aku yakin dia tidak akan menolak pinanganku. Karena aku tahu dengan pasti perasaannya padaku. Tapi yang terjadi justru di luar perkiraanku, dia hanya diam dan mengatakan,” Aku tidak keberatan dengan kepergianmu Az.” Tentang pinanganku dia sama sekali tidak berkomentar, tidak memberi jawaban.Yang dia inginkan hanya mewujudkan impiannya mendaki Rinjani. Bahkan ia mengatakan akan berangkat sepuluh hari lagi yang berarti tiga hari sebelum keberangkatanku. Aku tahu mungkin itu sebuah penolakan untukku.
Hari-hari menjelang keberangkatanku dia tetap bercanda seperti biasanya, tertawa sepeti biasanya, bahkan sikapnya denganku juga seperti biasanya, tidak berubah sedikit pun dan juga tidak menyinggung tentang pinanganku. Dan ketika dia berpamitan untuk berangkat ke Rinjani dia meminta maaf padaku. Dia tidak ingin aku mengantarkannya ke Bandara.
“Thanks Az buat semuanya. Jaga diri baik-baik. Sukses ya...” itu kata terakhir yang kudengar darinya. Dan karena itu semua, aku sekarang berada di sini. Di atas kereta api yang akan membawaku ke Bandung, menjauh darinya.
Bandung pukul 02.00 di tengah guyuran hujan, mas Ari menjemputku dan kami langsung menuju rumahnya di Jalan Suprapto. Aku hanya istirahat beberapa jam dan paginya kami langsung menuju kantor untuk rapat direksi dan pengangkatanku menjadi wakil direktur operasional yang baru. Hari ini aku lelah sekali. Aku menelepon Omi menanyakan kabar Lala, Omi hanya berkata semua baik-baik saja. Baru saja aku menutup telepon ketika tiba-tiba mas Ari muncul.
“Malem-malem nglamun. Nglamunin siapa Az? Lala lagi? Udah, tenang aja, kalo jodoh gak akan kemana-kemana.” mas Ari mengejekku dengan candaan yang menurutku nggak lucu. Ku pukul dia dan dia balas memukul. Akhirnya kami saling memukul dan tertawa bersama dalam nafas yang tinggal satu-satu.
“Eh, kamu dicari Bunda tuh, kangen katanya, malahan sempat dikatain anak durhaka segala,” kata mas Ari sambil mempraktekkan gaya bicara Bunda. Aku tertawa keras, kuambil handphoneku, dan ku tekan nomor telepon Bunda. Tut...tutt...tuuttt.” Assalamualaikum.” sapa Bunda dari ujung telepon di sana.
“Waalaikumsalam Bundaku tercinta,”
“Duh Gusti...kamu tuh bener-bener keterlaluan Le! Masa pulang ke rumah masmu, memangnya kamu sudah lupa jalan ke rumah orang tuamu?” kata Bunda emosi. Belum-belum sudah diomeli. Tapi aku hanya cekikikan mendengar Bunda mengucapkan kalimat itu dengan logat jawa yang khas.
“Maaf Bunda, urusan di kantor sangat banyak, dan saya harus belajar banyak dari mas Ari.” kilahku.
“Oooo....jadi urusan kantor lebih penting dari Ayah dan Bundamu?? Keterlaluan Le, kamu itu benar-benar keterlaluan,” sahut Bunda.
Mati aku, salah ngomong.” Bukan begitu Bu...”
“Kamu itu kok sudah seperti kehilangan sopan-santun to Le, Bundamu ini mendidikmu supaya kamu menjadi anak yang berbakti dan tau sopan santun. Jangan seenaknya sendiri. Hidup ini ada aturannya Le,” sela Bunda.
Mati aku, kalo udah kaya gini apa pun yang aku katakan pasti salah. Bisa-bisa semua jadi runyam. Dan aku hanya mampu mengeluarkan jurus pamungkasku.
“Maaf Bunda, Azka tau Azka salah, besok saya akan mampir ke rumah. Saya seperti ini bukan karena ndak sayang sama Bunda dan Ayah. Inikan juga untuk terus melangsungkan usaha keluarga Bu. Bagaimana perusahaan bisa maju jika karyawannya tidak loyal?” Hehe...Bunda pasti akan terpengaruh dan berhenti memarahiku.
“Ya sudah, terserah apa katamu lah. Yang penting kamu bisa jaga diri” kata Bunda pasrah.
“Beres Bunda, i love u Bundaku. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam” jawab Bunda dan kudengar telepon dimatikan.
Pfuhh...akhirnya aku dapat bernafas lega lepas dari kemarahan Bunda. Mas Ari hanya geleng-geleng dan menjitak kepalaku lalu pergi begitu saja.
Label: Bintang di Langit Jogja, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
BINTANG DI LANGIT JOGJA (Bagian 2)
Aku ingat benar kejadian sore itu. Sekedar berbasa-basi dalam bertetangga, aku berkunjung ke rumah tetangga baru. Yang kutahu, hanya dihuni oleh seorang ibu paroh baya dengan pembantunya. Beliau menyambutku dengan sangat hangat. Dari ceritanya aku tahu suaminya telah tiada. Dia hanya tinggal dengan si bungsu namanya Laila, yang saat ini sudah hampir menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum UGM. Dua anaknya yang lain tinggal di luar pulau. Tiba-tiba dari pintu depan muncul seorang gadis dengan paras lembut. Kerudung warna krem yang dipakainya serasi dengan kaos yang dikenakannya. Segera aku tahu dia adalah si bungsu yang diceritakan bu Widi yang untuk sekarang dan seterusnya aku panggil Omi, seperti Lala memanggil ibunya.
“La, ini tetangga baru kita,” ucap Omi. Gadis itu mendekat.
“Azka.” Aku mengulurkan tangan memperkenalkan diriku sebagai tetangga baru dengan ramah. Dia menjabat tanganku dengan malas. Dan astaga, dia memandangku sekilas, dan dengan wajah tanpa ekspresi dia berkata” oh” lalu pergi begitu saja tanpa menyebutkan nama. Ibunya hanya geleng-geleng melihat tingkah putrinya itu. Omi meminta maaf atas kejadian itu dan mengatakan jika Lala memang gadis yang sedikit cuek, mungkin karena masih asing dan hobinya berpetualang dengan alam. Aku hanya tersenyum saja memaklumi. Dalam hati aku berkata ia tidak hanya super cuek, tapi juga sedikit nggak sopan. Berbeda sekali dengan ibunya yang sangat menjaga sopan santun.
Hari-hari berikutnya kulalui dengan gembira. Hampir tiap hari aku menghabiskan waktu di rumah itu. Sarapan pagi, minum teh sambil berbincang-bincang dengan Omi, hingga ritual makan malam yang selalu berkesan. Tiga bulan aku tinggal di kota gudeg, aku semakin dekat dengan keluarga Omi. Aku akrab dengan Mas Fajar, yang ternyata adalah teman kuliah mas Ari. Dengan mbak Laras yang kini ikut suaminya di Palembang pun aku sering berkomunikasi untuk berkonsultasi tentang struktur tanah di Jogja. Hanya seorang saja yang tetap menganggapku gak ada. LALA!! Aku sudah mendengar banyak cerita tentangnya, tentang hobi-hobinya, kebiasaannya, sifat-sifatnya, tapi tetap saja yang ku tahu dia gadis yang sama sekali tidak peduli akan kehadiranku. Padahal hampir tiap hari aku menghabiskan waktu dengannya. Tidak banyak kata yang dia ucapkan, tipe cewek yang nggak suka basa-basi. Meskipun dia tinggal menunggu ujian skripsi, aku tak pernah melihat dia memegang buku, kecuali novel, majalah travelling, dan tentu saja peralatan campingnya. Dia membuatku menghabiskan waktu dalam penasaran yang berkepanjangan. Hingga suatu pagi di bulan Januari aku mendapat sms dari mas Ari yang bilang hari itu Lala ulang tahun. 24 Januari. Mungkin ini kesempatan bagiku mendekatinya. Karena terus terang saja aku tertarik dengan pribadinya yang sedikit” aneh”. Karena menurut cerita, dia adalah pribadi yang hangat dan penuh canda. Aku sering melihat dia seperti itu, dengan Omi, mas Fajar, yu Yem, dan mbak Laras. Tapi tidak dengan ku. Jangankan canda tawa, tersenyum pun padaku tidak pernah. Ada apa denganku? Kadang aku bercermin berlama-lama supaya mendapat alasan mengapa dia seperti itu. Tapi tak kutemukan apa pun kecuali bayangan lelaki matang, sukses, lumayan ganteng, dan dikejar-kejar banyak wanita. Mungkin sedikit sombong, tapi itulah kenyataannya.
Pada hari ultahnya itu aku ingin memberi surprise ke Lala. Sebuah liontin berbandul bintang. Tapi dia menerimanya dengan wajah cuek dan ucapan” thanks”, gak lebih. Aku gak tahu lagi harus gimana menghadapi kecuekannya itu. Dua hari berikutnya dia berkunjung ke rumahku untuk mengantarkan kue. Sebuah kejutan untukku. Seperti biasa tanpa ekspresi. Dia meneliti rumahku seperti polisi. Hingga dia berhenti pada fotoku ketika aku berada di puncak Jaya Wijaya. Ada keterkejutan yang kutangkap dari matanya. Dia memandangku dengan alis dikerutkan.
“Ini kamu Az??” tanyanya nggak percaya. Aku mengangguk mengiyakan.” Dulu waktu kuliah aku anak PALA,” jawabku.
“Kok kamu gak pernah cerita?” protesnya.
“Kamu gak pernah nanya,” jawabku agak ketus. Tapi dia gak peduli. Dia terus memandang fotoku dengan takjub dan senyum yang terkembang, tepatnya latar fotoku. Dia bercerita banyak tentang impiannya mendaki gunung-gunung yang ada di Indonesia. Tentang pengalaman-pengalamannya mendaki. Saking terkejutnya dengan perubahan sikapnya, aku sampai terbengong-bengong. Aku nggak percaya, hanya dengan sebuah foto, Lala yang super cuek jadi seorang yang banyak bicara dan menyenangkan. Aku menunjukkan foto-foto lain, dan dia luar biasa senang. Sejak saat itu aku mulai dekat dengannya, dia tidak lagi menganggap aku orang lain. Mungkin selama ini dia menjauhiku karena aku terlihat seperti anak mami yang manja dengan rambut rapi, tidak gondrong seperti dulu lagi. Kedekatanku dengan Lala semakin membuatku merasa gembira. Dia mengajakku berkeliling Jogja, ke Kaliurang, Borobudur, base campnya, hingga ke tempat biasanya ia nongkrong bareng teman-temannya. Perubahan yang mengejutkan. Aku merasakan perubahan itu juga dalam hatiku, sepertinya ada rasa lain yang membuatku selalu mengingatnya. Yang membuatku ingin cepat-cepat pulang dan bertemu dengannya.
Label: Bintang di Langit Jogja, Cerpen
BINTANG DI LANGIT JOGJA (Bagian 1)
Terik siang matahari yang menyengat kulit mengantarkanku menuju stasiun yang hanya berjarak satu kilometer dari rumahku. Rumah yang selama hampir setahun terakhir aku tinggali. Suasana bising kendaraan dan lalu lintas yang padat mengiringi laju roda becak yang aku tumpangi. Di sana-sini terdengar orang saling berebut bersuara. Entah mengumpat hawa panas ataupun memaki pengemudi angkot yang nekat menerobos lampu merah di perempatan jalan. Aku tenang-tenang saja duduk di atas becak yang meliuk-liuk menghindari kemacetan dan melenggang dengan santainya di atas aspal. Tinggal beberapa puluh meter lagi. Di depan sana sudah terlihat keramaian khas Stasiun Tugu. Aku menghela nafas panjang. Detik-detik berlalu begitu saja tanpa mengizinkan aku memaknai semuanya.
“Kiri Pak,” ucapku kepada si Tukang Becak.
Sedetik kemudian suara derit rem becak terdengar panjang menyaingi klakson mobil-mobil yang sedang berebut mencari tempat parkir. Aku segera membayar ongkos becak dan sekilas kudengar ucapan terimakasih dari si Tukang Becak. Aku melangkahkan kaki memasuki pelataran stasiun,menghindari panas. Dengan susah payah aku menembus kerumunan manusia dan lalu lalang penumpang yang akan masuk ataupun keluar stasiun. Siang yang melelahkan.
Cepat-cepat aku menuju ruang tunggu bagi penumpang VVIP, setelah terlebih dahulu menunjukkan karcis yang kubeli dua Minggu yang lalu. Kurebahkan tubuhku di salah satu sofa di ujung ruangan. Kurasakan dingin AC ruangan ini menyentuh kulit ari memberikan kesegaran di antara kepenatan yang aku rasakan. Kutarik nafas panjang-panjang hingga bisa kurasakan oksigen mengalir memenuhi rongga dada. Menghilangkan sedikit keresahan di jiwa. Ku coba memejamkan mata, menetralisir pergantian detik yang mencekat hati. Baru saja aku hanyut dalam angan, tiba-tiba terdengar pengumuman dari speaker yang dipasang di setiap ujung ruangan jika kereta yang kutumpangi akan berangkat lima belas menit lagi. Aku beranjak dari tempat dudukku. Dengan malas kutarik satu-satunya tas yang kubawa, karena mungkin semua barang-barangku sudah sampai di Bandung, kota tujuanku.
Dengan bantuan pramugari aku menemukan tempat dudukku, persis di samping jendela seperti yang kuinginkan ketika memesan karcis. Kuhempaskan tubuhku di kursi yang akan menemaniku selama dua belas jam ke depan. Itu pun bisa lebih jika ada halangan dalam perjalanan entah karena kesalahan teknis atau kesalahan manusia. Yah, kita sama-sama tahu bagaimana kondisi perkeretaapian Indonesia yang bisa dikatakan payah. Perlahan-lahan kereta mulai merangkak berjalan, merambat dengan pasti meninggalkan Stasiun Tugu. Sekilas kulihat bayangannya mengejar kereta. Tapi tak mungkin itu dia. Bukankah kata Omi, Lala sedang berlibur bersama teman-temannya melakukan kegemarannya mendaki?? Dan kata Omi juga, Lala baru sampai kaki Rinjani tadi malam??! Rencananya dia baru pulang minggu depan setelah bermalam dua hari di Senggigi?? Ah,mungkin aku sedang mengigau atau berhalusinasi karena terlalu memikirkan dia.
Kereta melaju semaki cepat. Kulemparkan pandang ke sekelilingku. Sepi....Bangku di sebelahku kosong, yang berarti aku tidak mendapat teman duduk selama perjalanan ini. Gerbong ini pun tampak lengang, hanya beberapa penumpang, sebuah keluarga di ujung gerbong, beberapa pemuda kulihat membawa ransel besar,mungkin mau mudik, lainnya aku tidak begitu memperhatikan. Bip...bip...handphoneku bergetar. Ada sms masuk dari mas Ari, wakil direktur operasional yang posisinya akan aku gantikan mulai besok pagi.
Az, semua berkas aku serahin ke Vanty. Kalau udah nyampe hub aku. Besok pg ada rapat direksi. Gimana kabar Lala???
Lala??!! Tak kubalas sms dari mas Ari. Kumatikan Hpku. Aku benar-benar ingin sendiri. Tiba-tiba bayangnya kembali hadir. Mengisi kepalaku penuh sesak dengan tawanya, renyah suaranya, tingkah lakunya. Sedang apa dia sekarang? Sudah berhasilkah dia menakhlukkan Rinjani seperti angannya? Apa dia sempat memikirkan aku, kepergianku?? Apa dia masih marah karena kepindahanku yang terkesan menghindarinya?? Meskipun sebenarnya itu salah satu alasanku menerima permintaan mas Ari untuk menggantikan posisinya. Mengapa sih La, semua menjadi serba sulit untuk kita. Aku gak pernah ngerti jalan pikiranmu. Aku tahu kamu merasakan hal yang sama, tetapi mengapa kamu menghindar dan lebih memilih untuk diam dan pergi begitu saja?? Tidak singkat waktu yang kita lalui bersama. Satu tahun adalah waktu yang cukup untukku mengenalmu La!
Namanya Leila, Dheiya Leila Nouri, tapi hampir semua orang yang mengenalnya memanggilanya Lala, bahkan Ominya sendiri juga memanggil seperti itu. Lebih mudah diucapkan katanya. Pertemuanku dengannya bermula kurang lebih satu tahun yang lalu, ketika aku mendapat tugas dari perusahaan tempatku bekerja ke kota gudeg, Jogjakarta, untuk menangani pembangunan kembali kota Jogja setelah dilanda gempa. Kira-kira pertengahan September 2006, aku menempati rumah baru yang aku beli dari sebagian uang tabunganku, karena kupikir aku akan lama tinggal di kota ini. Rumah yang tidak besar, juga tidak kecil, sedang-sedang saja lengkap dengan perabotnya. Rumah ideal untuk lelaki lajang sepertiku. Rumah ini terletak sekitar satu kilometer dari jantung kota Jogja, Malioboro. Tepatnya di daerah Jetis. Perumahan yang asri dengan banyak pohon-pohon rindang dan taman-taman cantik yang tertata rapi. Mas Ari memilihkan lokasi yang sangat aku sukai dimana aku bisa memandang taman dan hanya memiliki seorang tetangga yang rumahnya tepat berada di sebelah timur rumahku. Bahkan kami berbagi pagar.
Label: Bintang di Langit Jogja, Cerpen